Kamis, 10 Januari 2013

MAWAR DI TIANG GANTUNGAN

Oleh : Agus noor

Kuceritakan apa yang kulihat. Tapi kalian mengatakan aku dusta, karena aku buta. Aku memang tak punya mata. Namun berapa kali mesti kukatakan pada kalian, betapa aku bisa melihat langit yang hijau lembut dan halus seperti permukaan agar-agar. Aku bisa melihat pepohonan yang ungu, daun-daunnya yang kemerahan, butiran hujan yang bening keemasan hingga segalanya jadi tampak megah bekilauan setiap kali ia ditumpahkan. Bisa kulihat hamparan rumput yang biru bagai beludru, gugusan awan merah muda, bayang-bayang yang putih dan memanjang, juga angin yang pucat kelabu. Aku bahkan bisa menyentuhnya dengan ujung-ujung jemariku, seperti menyentuh kelembutan sutra yang berkibaran. Aku bisa melihat segala yang tidak mampu kau pandang dengan sepasang matamu.

Baiklah, untuk kesekian kali, kuceritakan pada kalian apa yang kusaksikan.
Aku melihatnya di pinggir jalan itu. Seperti malam-malam sebelumnya, ia selalu muncul dengan gaun yang mengundang, kakinya jenjang, berdiri menunggu seseorang datang, dan kau menyebutnya pelacur. Saat pertama kali melihatnya, aku langsung tahu. Namanya Mawar. 28 tahun lebih enam hari. Dia lahir saat hujan turun begitu lebat jam sembilan pagi. Sebulan setelah melahirkannya, ibunya gila karena guna-guna istri muda simpanan suaminya. Aku melihat garis pedih dan hitam. Aku bisa melihat semua yang hendak disembunyikannya. Bilur jejak luka di tubuhnya, dua anaknya yang sakit-sakitan di rumah petak kontrakannya di pinggiran kota sana, masa lalunya yang penuh kesedihan, suaminya yang minggat, dua tahi lalat kecil di punggungnya. Sungguh, tak ada yang tak terlihat olehku yang buta. Juga hari paling nestapa dalam hidupnya yang bakal tiba. Itulah sebabnya aku menyukainya sejak pertama. Ia seperti dikutuk kecantikannya. Kuceritakan penglihatanku. Tapi ia hanya tertawa.

”Kenapa mesti takut? Berkali-kali aku kena garuk. Aku tahu bagaimana caranya mengatasi,” katanya. ”Aku cuman perlu memberi sedikit kesenangan pada para petugas itu.”
Ia sebenarnya tak terlalu suka bicara. Sementara para pelacur lain berkeliaran sambil cekikikan genit setiap ada laki-laki muncul, ia memilih menyendiri. Kadang tampak ganjil juga melihat sosoknya di jalanan merah remang ini. Tapi itu membuatku jadi bisa sering mengajaknya bercakap. Pernah ia cerita tentang pelacur tua yang matanya menjadi buta karena rajasinga.
”Dan kamu, kenapa buta?” Ia sayu menatapku.
”Aku tak buta. Aku memang memilih tak punya mata.”
Lalu aku pun bercerita padanya.

Ketika sepasang malaikat membawa ruhku turun dari langit, mereka bergantian membisikkan nasib yang akan kujalani. Kemudian ditiupkan ruhku pada rahim perempuan yang akan menjadi ibuku. Seperti tanah liat yang mulai terbentuk, disematkannya tangan dan kaki pada tubuhku, diberinya aku degup jantung. Aku senang sekali ketika sepasang malaikat itu mulai memberiku telinga mulut dan hidung. Kemudian ditunjukkan padaku sepasang mata yang indah, dan berkata, ”Mata ini akan membuatmu jelita. Tapi kau akan menderita karenanya.”
Lalu kukatakan pada malaikat itu, ”Biarlah aku tak punya mata saja.”
”Bila kau tak punya mata, kau akan melihat banyak rahasia.”
”Kalau begitu, buat apa aku punya mata, bila aku bisa melihat tanpanya?”
Lalu mereka menyimpan sepasang mata itu.
”Baiklah, kami akan menaruh matamu ini di surga. Kelak, kamu bisa kembali mengambilnya.”
Tentu, kau bisa menduga, ketika aku lahir dan menatap dunia, perempuan itu langsung meraung ketika tahu anaknya tak punya mata. Ia begitu membenciku, dan tak pernah mau menatapku. Ia membuangku. Aku bahkan tak pernah tahu namanya. Seorang pemulung menemukanku di tempat pembuangan sampah, kemudian menjualku pada seseorang yang menampung para pengemis. Melihatku yang tak punya mata, ia seperti menemukan barang langka paling berharga. ”Anak ini akan membuat ibu siapa pun yang menatapnya. Anak ini akan membuat orang tak sungkan-sungkan melemparkan receh mereka.” Di rumah itu tinggal banyak anak-anak yang bagai barang rongsokan. Seorang anak kedua kakinya pengkor. Seorang anak tampak begitu idiot dengan air liur kental bacin yang terus berleleran. Ada yang bongkok. Ada yang gagu. Jileng. Perot. Digerogoti kusta. Bahkan seorang bocah yang tampak manis sengaja diiris telinganya dan dibiarkan jadi borok agar terlihat menyedihkan. Tentu, aku menjadi yang paling menyedihkan di antara mereka, dan karenanya bisa menghasilkan banyak uang setiap mengemis. Aku tahu, orang-orang lebih suka cepat-cepat memberi uang recehan mereka dan bergegas pergi ketimbang berlama-lama bersitatap denganku. Siapa yang tahan memandang wajah dengan sepasang liang hitam menganga?
Sengaja kubuka kelopak mataku, dan ia bergidik ngeri.
”Lihat, kau pun takut menatapku.”

Aku bisa memahami perasaannya. Seorang pelacur cantik duduk bersama perempuan tua buta, kukira memang bukan pemandangan yang menyenangkan. Ia bisa kehilangan pelanggan.
”Bukannya aku tak percaya. Tapi dengan apa kau melihat, kalau kau tak punya mata?”
”Aku melihat dengan mata yang tak kau punyai. Aku bisa melihat seekor kelabang mendekam di balik batu itu. Aku bisa melihat suara kucing yang mengeong di atap rumah ujung jalan itu. Pandanglah ujung gang yang kelabu itu, aku bisa melihatnya mengembang dan mengerut seperti gumpalan kabut. Aku bisa melihat kota ini seperti bola bekel raksasa yang lembek, aku bisa menyentuhnya dengan tanganku, cahaya seperti lumer di sela jariku. Aku bisa melihat menara jam di tengah kota bergumam muram tengah malam, kemudian meliuk merunduk. Aku bisa melihat maneken-maneken yang berkedip, menggeliat bosan terkurung etalase toko-toko sepanjang jalan ini. Mereka seperti pelacur-pelacur kesepian yang menunggu pelanggan dan sentuhan…”
Dia tertawa.
”Lihatlah, bahkan aku bisa melihat tawamu yang ungu kebiru-biruan memuai di udara.”
Ia kembali tertawa. Kutegaskan padanya, betapa setiap suara punya warna yang berbeda-beda. Kau mendengar suara, aku bisa melihatnya. Ia terus tertawa. Aku tahu ia mulai nyaman di dekatku. ”Kau menyenangkan. Caramu bercerita membuatku tak tertalu kesepian,” katanya.
Sejak itu aku sering menemaninya. Ia suka setiap aku menceritakan yang kulihat. Dunia yang kusaksikan membuatnya terpesona. Lalu kukatakan apa yang bakal menimpanya. Ia memang tak menuduhku berdusta, tapi tak percaya.

Aku ingat betul malam itu ia terlihat lebih sedih dan gelisah. Barangkali ia pun merasakan firasat itu, tetapi tetap bersikeras tak mempercayainya. Hujan yang biru pekat membuat jalanan menggigil, dan angin yang buruk seperti kaleng rombeng yang bergerompyangan menabrak-nabrak dinding. Lepas 3 dini hari. Sebagian pelacur telah pergi. Ia berteduh di trotoar, rambutnya basah tertempias hujan. Di pojokan toko, aku rebahan di tumpukan kardus memandangi bayangan takdir paling getir. Aku seperti mendengar lecut petir, ketika kulihat beberapa pelacur bergegas menyingkir. Mobil patroli yang mendadak muncul membuat semuanya kocar-kacir. Ia pun hendak lari. Tetapi para petugas sudah mengepungnya. Aku bisa melihat lelehan sisa arak di mulut petugas-petugas itu. Aku tahu mereka barusan menenggak berbotol-botol arak sebelum sampai ke sini. Arak yang memadamkan sepi dan membangkitkan birahi. Itulah sebabnya mereka menjadi lebih beringas dari biasanya. Aku melihat aroma pekat kecoklatan napas mereka ketika menyeringai tertawa. Mungkin saat itu aku berteriak. Mungkin tidak. Semuanya berlangsung begitu cepat. Seorang memukulku yang mencoba menolong Mawar. Aku bahkan nyaris dicekiknya, tapi petugas yang lain segera berteriak, ”Biarkan! Dia cuma perempuan buta itu!”

Dan inilah yang kusaksikan malam itu:
Mereka menyeret Mawar yang terus meronta. Melemparkannya ke mobil patroli. Membawanya pergi kemudian menyekapnya di gudang. Aku bisa melihat semuanya dengan jelas. Begitu nyata dalam penglihatanku. Wajah Mawar pucat, bibirnya bengkak kena pukul, seekor cicak kaget menyelusup ke celah dinding, ketika Mawar menjerit. Mereka menyumpal mulutnya. Memelorotkan pakaiannya dengan paksa, kemudian bergiliran memperkosanya. Sunyi yang paling hitam membenamkan penglihatanku yang penuh kepedihan. Isak tangis muram menyelubungi gudang itu, bercampur erang yang terdengar bagai muncul dari binatang terluka. Lalu kusaksikan Mawar mendadak bangkit menyerang sambil menjerit panjang. Ia hantam kepala seorang pemerkosanya dengan lonjoran besi yang berhasil diraihnya. Ia mengamuk dengan buas. Dihunjamkannya berkali-kali besi itu ke tubuh yang terkapar…

Begitulah kejadiannya. Kuceritakan apa yang kusaksikan, tapi kalian tak pernah percaya pada saksi mata yang buta. Padahal bukan aku yang dusta, tapi mereka. Peristiwa pemerkosaan itu mereka tutup-tutupi dengan pembunuhan itu. Mereka bilang mereka tengah patroli seperti biasa. Mawar mereka bawa dan nasihati baik-baik ketika mendadak ia mengamuk. Rupanya ia mabok berat. Di tasnya ada beberapa butir pil dan pisau lipat—yang sengaja ditaruh petugas untuk menjebaknya. Ada bercak darah di pisau itu. Dan selanjutnya kalian tahu sebagaimana diberitakan koran-koran: dikatakan Mawar baru saja membunuh seorang pelanggan yang tak membayarnya. Bahkan petugas bisa mengembangkan bukti, ternyata dialah psikopat yang selama ini mereka cari. Ia pembunuh yang telah memotong-motong delapan korbannya. Pelacur dan pembunuh. Itu alasan yang cukup untuk menyeretnya ke tiang gantungan. Kalian seketika merasa nyaman karena pembunuh misterius itu telah tertangkap. Dan kalian makin merasa tenang karena kalian memang ingin melenyapkan maksiat dari kota. Pelacur-pelacur mesti disingkirkan. Mereka selama ini membuatmu jengah karena takut dengannya suami-suami dan anak laki-laki kalian berzina. Segala yang cabul mesti dimusnahkah, karena begitulah menurut undang-undang yang baru kalian sahkan. Maka kalian pun hanya diam ketika Mawar diarak ke alun-alun kota, dicambuk dan dirajam, kemudian digantung sebagai tontonan. Kusaksikan senja yang memar, burung gagak merah berkaokan, dan angin yang muram berkesiur pelan membuat tubuh itu terayun di tiang gantungan. Sampai malam.

Keesokan harinya kalian gempar. Mayat itu lenyap dari tiang gantungan!
Di pasar. Di kantor. Di ruang tunggu rumah sakit. Di warung dan kafe. Di pangkalan ojek. Di seluruh kota. Orang-orang ramai membicarakan. Sampai sekarang pun kalian masih terus kasuk-kusuk. Kalian kebingungan ketika anak-anak kalian bertanya. Karena bagaimanapun tidaklah mungkin mayat itu lenyap begitu saja. Siapa yang membawanya?

Baiklah, kuceritakan apa yang telah kusaksikan.
Setelah mayat itu digantung, kalian pun bubar. Sebagian kalian tertunduk, seakan ingin menghapus bayangan buruk. Tapi kalian tak ingin terus meneruh disesah kengerian karena saat itu hari Natal. Kalian mesti ke gereja. Ada yang lebih kudus untuk dirayakan. Maka malam itu aku pun menyaksikan langit kota yang dipenuhi nyanyian doa kalian. Hujan rinai turun, malam mengelabu. Aku sendirian di alun-alun itu, memandangi tubuh Mawar yang tergantung dalam bayangan cahaya murung. Kurasakan debu-debu beterbangan diembus angin yang makin jekut ketika kesepian makin membentangkan kelengangan yang menyayatkan keperihan bersama debu dan dingin yang mulai membaluri kota sementara sisa gema lonceng bagai melekat di udara yang makin menggigilkanku dalam kesedihan.

Saat itulah, ketika di gereja kalian memadahkan kidung agung Natal penuh sukacita, aku tiba-tiba melihat seseorang muncul dari ketiadaan. Ia berjalan mendekati tiang gantungan. Kalian pasti akan langsung tahu siapa dia begitu melihat wajahnya yang bersih dan indah, seperti ada cahaya mengitari kepalanya. Matanya seperti bintang bening. Senyumnya seperti anggur lembut yang seketika bisa menghapus dahaga. Rambutnya ikal dan panjang. Ia berjalan anggun, seperti seseorang yang berjalan melintasi permukaan air, meski sesekali tampak limbung karena menahan luka di lambungnya. Kulihat tangan dan kakinya berdarah. Kudengar ia berseru, seperti memanggil nama pelacur itu.

Aku begitu terkesima menyaksikannya. Langit seakan tiba-tiba benderang penuh cahaya keemasan yang cemerlang. Kulihat ia bersimpuh di bawah tiang gantungan, dan mencium lembut kaki mayat yang tergantung itu, kemudian menurunkannya. Saat itu aku melihat ribuan mawar mengapung di udara menyerbakkan harum yang megah. Kudengar kalian masih menyanyikan doa-doa dan pujian di gereja ketika laki-laki itu membawanya pergi. Seperti pengantin membopong mempelainya.
Kuceritakan ini pada kalian, tapi kalian menuduhku pendusta.
Yogyakarta, 2008

PELAJARAN MENGARANG

Karya : Seno Gumira Ajidarma

Pelajaran mengarang sudah dimulai.
“Kalian punya waktu 60 menit”, ujar Ibu Guru Tati.
Anak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir menyentuh meja. Ibu Guru Tati menawarkan tiga judul yang ditulisnya di papan putih. Judul pertama “Keluarga Kami yang Berbahagia”. Judul kedua “Liburan ke Rumah Nenek”. Judul ketiga “Ibu”.

Ibu Guru Tati memandang anak-anak manis yang menulis dengan kening berkerut. Terdengar gesekan halus pada pena kertas. Anak-anak itu sedang tenggelam ke dalam dunianya, pikir Ibu Guru Tati. Dari balik kaca-matanya yang tebal, Ibu Guru Tati memandang 40 anak yang manis, yang masa depannya masih panjang, yang belum tahu kelak akan mengalami nasib macam apa.
Sepuluh menit segera berlalu. Tapi Sandra, 10 Tahun, belum menulis sepatah kata pun di kertasnya. Ia memandang keluar jendela. Ada dahan bergetar ditiup angin kencang. Ingin rasanya ia lari keluar dari kelas, meninggalkan kenyataan yang sedang bermain di kepalanya. Kenyataan yang terpaksa diingatnya, karena Ibu Guru Tati menyuruhnya berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, “Liburan ke Rumah Nenek”, “Ibu”.  Sandra memandang Ibu Guru Tati dengan benci.
Setiap kali tiba saatnya pelajaran mengarang, Sandra selalu merasa mendapat kesulitan besar, karena ia harus betul-betul mengarang. Ia tidak bisa bercerita apa adanya seperti anak-anak yang lain. Untuk judul apapaun yang ditawarkan Ibu Guru Tati, anak-anak sekelasnya tinggal menuliskan kenyataan yang mereka alami. Tapi, Sandra tidak, Sandra harus mengarang. Dan kini Sandra mendapat pilihan yang semuanya tidak menyenangkan.

Ketika berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, di lantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur. Tumpahan bir berceceran diatas kasur yang spreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus menerus mendengkur, bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah.
“Lewat belakang, anak jadah, jangan ganggu tamu Mama,” ujar sebuah suara  dalam ingatannya, yang ingin selalu dilupakannya.

***

Lima belas menit telah berlalu. Sandra tak mengerti apa yang harus dibayangkanya tentang sebuah keluarga yang berbahagia.
“Mama, apakah Sandra punya Papa?”
“Tentu saja punya, Anak Setan! Tapi, tidak jelas siapa! Dan kalau jelas siapa belum tentu ia mau jadi Papa kamu! Jelas? Belajarlah untuk hidup tanpa seorang Papa! Taik Kucing dengan Papa!”
Apakah Sandra harus berterus terang? Tidak, ia harus mengarang. Namun ia tak punya gambaran tentang sesuatu yang pantas ditulisnya.
Dua puluh menit berlalu. Ibu Guru Tati mondar-mandir di depan kelas. Sandra mencoba berpikir tentang sesuatu yang mirip dengan “Liburan ke Rumah Nenek” dan yang masuk kedalam benaknya adalah gambar seorang wanita yang sedang berdandan dimuka cermin. Seorang wanita dengan wajah penuh kerut yang merias dirinya dengan sapuan warna yang serba tebal. Merah itu sangat tebal pada pipinya. Hitam itu sangat tebal pada alisnya. Dan wangi itu sangat memabukkan Sandra.
“Jangan Rewel Anak Setan! Nanti kamu kuajak ke tempatku kerja, tapi awas, ya? Kamu tidak usah ceritakan apa yang kamu lihat pada siapa-siapa, ngerti? Awas!”
Wanita itu sudah tua dan menyebalkan. Sandra tak pernah tahu siapa dia. Ibunya memang memanggilnya Mami. Tapi semua orang didengarnya memanggil dia Mami juga. Apakah anaknya begitu banyak? Ibunya sering menitipkan Sandra pada Mami itu kalau keluar kota berhari-hari entah ke mana.
Di tempat kerja wanita itu, meskipun gelap, Sandra melihat banyak orang dewasa berpeluk-pelukan sampai lengket. Sandra juga mendengar musik yang keras, tapi Mami itu melarangnya nonton.
“Anak siapa itu?”
“Marti.”
“Bapaknya?”
“Mana aku tahu!”
Sampai sekarang Sandra tidak mengerti. Mengapa ada sejumlah wanita duduk diruangan kaca ditonton sejumlah lelaki yang menujuk-nunjuk mereka.
“Anak kecil kok dibawa kesini, sih?”
“Ini titipan si Marti. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian dirumah. Diperkosa orang malah repot nanti.”
Sandra masih memandang keluar jendela. Ada langit biru diluar sana. Seekor burung terbang dengan kepakan sayap yang anggun.

***

Tiga puluh menit lewat tanpa permisi. Sandra mencoba berpikir tentang “Ibu”. Apakah ia akan menulis tentang ibunya? Sandra melihat seorang wanita yang cantik. Seorang wanita yang selalu merokok, selalu bangun siang, yang kalau makan selalu pakai tangan dan kaki kanannya selalu naik keatas kursi.
Apakah wanita itu Ibuku? Ia pernah terbangun malam-malam dan melihat wanita itu menangis sendirian.
“Mama, mama, kenapa menangis, Mama?”
Wanita itu tidak menjawab, ia hanya menangis, sambil memeluk Sandra. Sampai sekarang Sandra masih mengingat kejadian itu, namun ia tak pernah bertanya-tanya lagi. Sandra tahu, setiap pertanyaan hanya akan dijawab dengan “Diam, Anak Setan!” atau “Bukan urusanmu, Anak Jadah” atau “Sudah untung kamu ku kasih makan dan ku sekolahkan baik-baik. Jangan cerewet kamu, Anak Sialan!”
Suatu malam wanita itu pulang merangkak-rangkak karena mabuk. Di ruang depan ia muntah-muntah dan tergelatak tidak bisa bangun lagi. Sandra mengepel muntahan-muntahan itu tanpa bertanya-tanya. Wanita yang dikenalnya sebagai ibunya itu sudah biasa pulang dalam keadaan mabuk.
“Mama kerja apa, sih?”

Sandra tak pernah lupa, betapa banyaknya kata-kata makian dalam sebuah bahasa yang bisa dilontarkan padanya karena pertanyaan seperti itu.
Tentu, tentu Sandra tahu wanita itu mencintainya. Setiap hari minggu wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza ini atau ke plaza itu. Di sana Sandra bisa mendapat boneka, baju, es krim, kentang goreng, dan ayam goreng. Dan setiap kali makan wanita itu selalu menatapnya dengan penuh cinta dan seprti tidak puas-puasnya. Wanita itu selalu melap mulut Sandra yang belepotan es krim sambil berbisik, “Sandra, Sandra …”
Kadang-kadang, sebelum tidur wanita itu membacakan sebuah cerita dari sebuah buku berbahasa inggris dengan gambar-gambar berwarna. Selesai membacakan cerita wanita itu akan mencium Sandra dan selalu memintanya berjanji menjadi anak baik-baik.
“Berjanjilah pada Mama, kamu akan jadi wanita baik-baik, Sandra.”
“Seperti Mama?”
“Bukan, bukan seperti Mama. Jangan seperti Mama.”
Sandra selalu belajar untuk menepati janjinya dan ia memang menjadi anak yang patuh. Namun wanita itu tak selalu berperilaku manis begitu. Sandra lebih sering melihatnya dalam tingkah laku yang lain. Maka, berkelebatan di benak Sandra bibir merah yang terus menerus mengeluaran asap, mulut yang selalu berbau minuman keras, mata yang kuyu, wajah yang pucat, dan pager …
Tentu saja Sandra selalu ingat apa yang tertulis dalam pager ibunya. Setiap kali pager itu berbunyi, kalau sedang merias diri dimuka cermin, wanita itu selalu meminta Sandra memencet tombol dan membacakannya.
     
DITUNGGU DI MANDARIN
KAMAR: 505, PKL 20.00

Sandra tahu, setiap kali pager ini menyebut nama hotel, nomor kamar, dan sebuah jam pertemuan, ibunya akan pulang terlambat. Kadang-kadang malah tidak pulang sampai dua atau tiga hari. Kalau sudah begitu Sandra akan merasa sangat merindukan wanita itu. Tapi, begitulah , ia sudah belajar untuk tidak pernah mengungkapkanya.

***

Empat puluh menit lewat sudah.
“Yang sudah selesai boleh dikumpulkan,” kata Ibu guru Tati.
Belum ada secoret kata pun di kertas Sandra. Masih putih, bersih, tanpa setitik pun noda. Beberapa anak yang sampai hari itu belum mempunyai persoalan yang teralalu berarti dalam hidupnya menulis dengan lancar. Bebarapa diantaranya sudah selesai dan setelah menyerahkannya segera berlari keluar kelas.
Sandra belum tahu judul apa yang harus ditulisnya.
“Kertasmu masih kosong, Sandra?” Ibu Guru Tati tiba-tiba bertanya.
Sandra tidak menjawab. Ia mulai menulis judulnya: Ibu. Tapi, begitu Ibu Guru Tati pergi, ia melamun lagi. Mama, Mama, bisiknya dalam hati. Bahkan dalam hati pun Sandra telah terbiasa hanya berbisik.
Ia  juga hanya berbisik malam itu, ketika terbangun karena dipindahkan ke kolong ranjang. Wanita itu barangkali mengira ia masih tidur. Wanita itu barangkali mengira, karena masih tidur maka Sandra tak akan pernah mendengar suara lenguhnya yang panjang maupun yang pendek di atas ranjang. Wanita itu juga tak mengira bahwa Sandra masih terbangun ketika dirinya terkapar tanpa daya dan lelaki yang memeluknya sudah mendengkur keras sekali. Wanita itu tak mendengar lagi ketika dikolong ranjang Sandra berbisik tertahan-tahan “Mama, mama …” dan pipinya basah oleh air mata.
“Waktu habis, kumpulkan semua ke depan,” ujar Ibu Guru Tati.

Semua anak berdiri dan menumpuk karanganya di meja guru. Sandra menyelipkan kertas di tengah.
Di rumahnya, sambil nonton RCTI, Ibu Guru Tati yang belum berkeluarga memeriksa pekerjaan murid-muridnya. Setelah membaca separo dari tumpukan karangan itu, Ibu guru Tati berkesimpulan, murid-muridnya mengalami masa kanak-kanak yang indah.
Ia memang belum sampai pada karangan Sandra, yang hanya berisi kalimat sepotong:

Ibuku seorang pelacur…
                     
Palmerah, 30 November 1991
*) Dimuat di harian Kompas, 5 Januari 1992.  Terpilih sebagai Cerpen Pilihan Kompas 1993.

Selasa, 16 Oktober 2012

MANUSIA

Oleh  : Alief Muhammad

manusia hanyalah seonggok kentut
mereka bukanlah apa-apa
yang tidak lebih wangi dari tempe jamuran

tapi mereka memiliki sesuatu
yang membuat mereka mulia
namanya hati

hati memiliki dua jalan
kebaikan dan keburukan
sialnya, banyak yang memilih yang kedua

jangan sampai hati ini ternodai
karena kesombongan tidak bertahan lama
seperti kata pepatah :
sepandai-pandainya bangau terbang
akhirnya menjadi kecap juga

(Bandung, 29 April 2012)

Kamis, 05 Juli 2012

SURAM

wahahi rembulan!
tidakkah kau tahu?
keegoanmu hanya menyulam muram
di rumpun jiwa yang begitu dalam
hingga memupuk benteng kesunyian

saat ini pun hujan enggan
menaruh rintiknya dalam kegelapan
karena jiwaku berada dalam tangisan

dalam remangnya caraya temaram
ku dapatkan setitik cahaya rembulan
dan nyanyian malam memecah kerinduan
bahkan keindahan

(desember 2008)

BIANGLALA

gaduh, melanglangbuana
seperti hampir menggapai cakrawala
di belantara sengsara

api, arang, bara
panasnya menggelora
membahana

bianglala nyaris binasa
karena cerca
aneka angkara


tak lagi lapang
tak lagi sedang
lonceng tanpa dentang

bukankah ornamennya jadi serpihan?
dan masuk comberan?
kapan?

(Cimanggung, 31 Mei 2012)

Jumat, 15 Juni 2012

Manajemen Event Olahraga

Oleh : Evie Aprilianty

Seminar Internasional yang membahas mengenai Manajemen Event Olahraga dengan tema ‘Kebijakan dan Standarisasi Penyelenggaraan Olahraga Bertaraf Internasional serta Perumusan Pembentukan Asosiasi Profesi Mahasiswa Ilmu Keolahragaan Se-Indonesia 2012’ di Auditorium FPOK Universitas Pendidikan Indonesia pada hari sabtu 2 Juni 2012 lalu menyajikan materi yang cukup menarik. Menghadirkan pemateri dari Negeri Jiran Malaysi, Perwakilan dari Kemenpora, dan Perwakilan dari Dinas Pemuda dan Olahraga Jawa Barat.

Dr. Muhammad Taib Harun, PhD, memaparkan materi yang berhubungan erat dengan bagaimana memahami resiko dan cara penanganan resiko dalam konteks pendidikan luar. Tujuannya adalah menyediakan pengetahuan bagi orang-orang yang bekerja pada bidang olahraga sebagai salah satu sumber penanganan resiko yang akan membantu dengan penuh tanggung jawab dan meminimalisir resiko kecelakaan baik aktivitas di darat, laut maupun udara.

Kesimpulan dari materi Dr. Muhammad Taib Harun, PhD ini bahwa seorang pengajar mempunyai peranan penting dalam mengawal resiko yang terjadi pada anak didik. Pengajar melakukannya dengan cara mengimbangi tahap resiko sesuai kompetensi yang dimiliki peserta didik, melaksanakan kegiatan dengan pemanasan terlebih dahulu, secara sadar berusaha untuk menangani resiko pada tahap pelajar dan pengajar.

Panelis yang kedua yaitu Drs. Agus Hendra menyampaikan materi mengenai Kebijakan Penyelenggaraan Keolahragaan, tentunya ini berkaitan erat dengan tujuan nasional olahraga Indonesia sendiri berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Olahraga Nasional. Indonesia memiliki lembaga yang bertanggung jawab terhadap keolahragaan nasional yaitu Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Tapi, dalam pemaparannya dalam Seminar Internasional di Auditorium FPOK (02/6) Agus Hendra menjelaskan bahwa ada PRIMA yang khusus menangani Atlet Nasional, tapi ini tidak ada di daerah karena ditakutkan akan lebih mendominasi dibandingkan dengan peran KONI itu sendiri, karena KONI memerankan fungsi-fungsi dalam event-event olahraga regional dan internasional yang merupakan sisi ”hilir” dari pengembangan dan pembinaan olahraga prestasi di Indonesia.

Untuk menggelar event yang skalanya nasional, mahasiswa juga dapat ikut andil sebagai sukarelawan, tidak dibatasi berapa jumlahnya selama memang memadai dan dapat berkontribusi tanpa memikirkan upah yang aka didapatnya, ini juga menjadi suatu himbauan bagi mahasiswa yang tertarik menjadi ‘event organizer’ kepanitiaan olahraga skala nasional untuk lebih berpartisipasi aktif agar membuahkan pengalaman yang mendalam tentang bagaimana manajemen event olahraga nasional, seperti Pekan Olahraga Nasional (PON) bahkan lebih jauh lagi dalam skala Internasional yang tentu sudah jelas tujuannya dalam pasal 44 ayat (1) Keikutsertaan Indonesia dalam pekan olahraga internasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 butir (d) bertujuan untuk mewujudkan persahabatan dan perdamaian dunia serta untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa melalui pencapaian prestasi.

Selain yang sifatnya nasional, di Indonesia juga diadakan kegiatan olahraga yang sifatnya kedaerahan misalnya Pekan Olahraga Daerah (PORDA). ‘Jawa Barat yang akan menjadi tuan rumah PON pada tahun 2016, mempersiapkan segalanya untuk membuat acara yang sukses’ungkap Drs. Nandang Rukanda sebagai perwakilan dari Dinas Pemuda dan Olahraga Jawa Barat.

Kaitan dari penyelenggaraan event olahraga dengan bagaimana mengatasi resiko kecelakaan, setiap kegiatan harus memikirkan resiko sampai kemungkinan terburuk dan terbaik. Resiko dari penyelenggaraan kegiatan olahraga tidak dapat disangsikan adalah resiko kecelakaan. Dengan adanya pemahaman akan resiko setidaknya dapat meminimalisir kemungkinan kecelakaan itu. KONI  sebagai lembaga yang berwenang pun menjadi sangat berpengaruh, karena bagaimana penyelenggaraan akan terlaksana jika organisasi ini tidak berjalan dengan baik.

Akhirnya dalam kesempatan ini menghimbau kepada seluruh kalangan untuk berperan aktif dalam kegiatan kemajuan keolahragaan nasional. Seperi jargon yang diteriakkan oleh peserta Seminar Internasional yang dipandu oleh Drs. Agus Hendra “OLAHRAGA JAYA”.

Senin, 04 Juni 2012

KOSONG


Oleh : Apri Munganti

Bukankah seorang hawa terlahir dari sang adam?
Lalu, akankah hidup meracun hati?

Bersama segores luka ini ku lukiskan
Rasa piluku melalui hariku
Betapa dusta telah merenggut kepercayaan sejati milikku,
Menikam nurani dengan tinta berisi sembilu

Penat ini tak kuasa reda dari peraduannya
Tak jua surut dari pasangnya
Waktu tak ingin berlalu tanpa nafasmu
Sejenak ku tak peduli itu
Namun pengisi jiwa ini hanyalah sang waktu

Berada di buimu memang menyenangkan, tapi memilukan
Sendiri,
Sedang kau tak peduli

Meninggalkanku dengan sisa bayangmu,
Dengan serpihan aroma tubuhmu dan sebait diksi-diksimu
Yang tetap bersahaja

Sudah, tinggallah saja diriku
Usah kau acuhkan ku
Biarkan aku dengan kekosonganmu yang tak pernah sirna
Dan abadi untuk selamanya

Cimanggung, 5 Januari 2011

BIARIN!


Oleh: Yudhistira Anm Massardi


kamu bilang hidup ini brengsek. Aku bilang biarin
kamu bilang hidup ini nggak punya arti. Aku bilang biarin
kamu bilang aku nggak punya kepribadian. Aku bilang biarin
kamu bilang aku nggak punya pengertian. Aku bilang biarin

habisnya, terus terang saia, aku nggak percaya sama kamu
Tak usah marah. Aku tahu kamu orangnya sederhana
cuman, karena kamu merasa asing saja makanya
kamu selalu bilang seperti itu
kamu bilang aku bajingan. Aku bilang biarin
kamu bilang aku perampok. Aku bilang biarin

soalnya, kalau aku nggak jadi bajingan mau jadi apa coba, lonte?
aku laki-laki. Kalau kamu nggak suka kepadaku sebab itu
aku rampok hati kamu. Tokh nggak ada yang nggak perampok di dunia
ini. lya nggak? Kalau nggak percaya tanya saja sama polisi

habisnya, kalau nggak kubilang begitu mau apa coba
bunuh diri? Itu lebih brengsek daripada membiarkan hidup ini berjalan seperti kamu sadari sekarang ini
kamu bilang itu melelahkan. Aku bilang biarin
kamu bilang itu menyakitkan

HARI INI


Oleh : Apri Munganti

waw, hari ini begitu panas, bu
hingga telur dijemur di bawah terik mentari pun dapat masak
mulanya orang-orang menanam jagung
kemudian menanam gedung (terinspirasi dari status Ariana Za, 19 Juli jam 21:40 melalui 0.facebook.com)
buahnya ranum
negeriku begitu asing
dengan mesin-mesin yang bising
kapan akan turun hujan bu?
aku tak tahan dengan kegersangan

hari ini tak ada dahan
yang ada hanya bahan
kasihan
perempatan jalan dijadikan mata pencaharian
orang tua naik pitam
mengutuk kerja keras pemerintahan

hari ini banyak tikus yang kelabakan
karena rumahnya kebanjiran
berapa hari lagi keadilan akan ditegakkan, bu?
aku sudah tak tahan dengan persaingan
persaingan dengan orang besar dan kekar
diatas belukar

hari ini sungguh berisik, bu
terlalu banyak aksi dan kreasi tak berarti
hingga tak ada yang sehati
aku tak dapat lagi mendengar nyanyian ibu pertiwi

hari ini kata ibu "bahan pokok naik"
hari ini kata ayah "BBM naik"
hari ini kata kakak "mencari uang itu pakai uang"
hari ini kata paman "orang sakit malah dilarikan"
hari ini
hari ini
hari ini
esok apa lagi?
Eddy Tansil ditemukan?
Pengeboman?
Penaikan jabatan?
atau partai dibubarkan?

Ricuh saja sekalian!

Cimanggung, 28 Juli 2011

Aku


Chairil Anwar

Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943