Jumat, 15 Juni 2012

Manajemen Event Olahraga

Oleh : Evie Aprilianty

Seminar Internasional yang membahas mengenai Manajemen Event Olahraga dengan tema ‘Kebijakan dan Standarisasi Penyelenggaraan Olahraga Bertaraf Internasional serta Perumusan Pembentukan Asosiasi Profesi Mahasiswa Ilmu Keolahragaan Se-Indonesia 2012’ di Auditorium FPOK Universitas Pendidikan Indonesia pada hari sabtu 2 Juni 2012 lalu menyajikan materi yang cukup menarik. Menghadirkan pemateri dari Negeri Jiran Malaysi, Perwakilan dari Kemenpora, dan Perwakilan dari Dinas Pemuda dan Olahraga Jawa Barat.

Dr. Muhammad Taib Harun, PhD, memaparkan materi yang berhubungan erat dengan bagaimana memahami resiko dan cara penanganan resiko dalam konteks pendidikan luar. Tujuannya adalah menyediakan pengetahuan bagi orang-orang yang bekerja pada bidang olahraga sebagai salah satu sumber penanganan resiko yang akan membantu dengan penuh tanggung jawab dan meminimalisir resiko kecelakaan baik aktivitas di darat, laut maupun udara.

Kesimpulan dari materi Dr. Muhammad Taib Harun, PhD ini bahwa seorang pengajar mempunyai peranan penting dalam mengawal resiko yang terjadi pada anak didik. Pengajar melakukannya dengan cara mengimbangi tahap resiko sesuai kompetensi yang dimiliki peserta didik, melaksanakan kegiatan dengan pemanasan terlebih dahulu, secara sadar berusaha untuk menangani resiko pada tahap pelajar dan pengajar.

Panelis yang kedua yaitu Drs. Agus Hendra menyampaikan materi mengenai Kebijakan Penyelenggaraan Keolahragaan, tentunya ini berkaitan erat dengan tujuan nasional olahraga Indonesia sendiri berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Olahraga Nasional. Indonesia memiliki lembaga yang bertanggung jawab terhadap keolahragaan nasional yaitu Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Tapi, dalam pemaparannya dalam Seminar Internasional di Auditorium FPOK (02/6) Agus Hendra menjelaskan bahwa ada PRIMA yang khusus menangani Atlet Nasional, tapi ini tidak ada di daerah karena ditakutkan akan lebih mendominasi dibandingkan dengan peran KONI itu sendiri, karena KONI memerankan fungsi-fungsi dalam event-event olahraga regional dan internasional yang merupakan sisi ”hilir” dari pengembangan dan pembinaan olahraga prestasi di Indonesia.

Untuk menggelar event yang skalanya nasional, mahasiswa juga dapat ikut andil sebagai sukarelawan, tidak dibatasi berapa jumlahnya selama memang memadai dan dapat berkontribusi tanpa memikirkan upah yang aka didapatnya, ini juga menjadi suatu himbauan bagi mahasiswa yang tertarik menjadi ‘event organizer’ kepanitiaan olahraga skala nasional untuk lebih berpartisipasi aktif agar membuahkan pengalaman yang mendalam tentang bagaimana manajemen event olahraga nasional, seperti Pekan Olahraga Nasional (PON) bahkan lebih jauh lagi dalam skala Internasional yang tentu sudah jelas tujuannya dalam pasal 44 ayat (1) Keikutsertaan Indonesia dalam pekan olahraga internasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 butir (d) bertujuan untuk mewujudkan persahabatan dan perdamaian dunia serta untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa melalui pencapaian prestasi.

Selain yang sifatnya nasional, di Indonesia juga diadakan kegiatan olahraga yang sifatnya kedaerahan misalnya Pekan Olahraga Daerah (PORDA). ‘Jawa Barat yang akan menjadi tuan rumah PON pada tahun 2016, mempersiapkan segalanya untuk membuat acara yang sukses’ungkap Drs. Nandang Rukanda sebagai perwakilan dari Dinas Pemuda dan Olahraga Jawa Barat.

Kaitan dari penyelenggaraan event olahraga dengan bagaimana mengatasi resiko kecelakaan, setiap kegiatan harus memikirkan resiko sampai kemungkinan terburuk dan terbaik. Resiko dari penyelenggaraan kegiatan olahraga tidak dapat disangsikan adalah resiko kecelakaan. Dengan adanya pemahaman akan resiko setidaknya dapat meminimalisir kemungkinan kecelakaan itu. KONI  sebagai lembaga yang berwenang pun menjadi sangat berpengaruh, karena bagaimana penyelenggaraan akan terlaksana jika organisasi ini tidak berjalan dengan baik.

Akhirnya dalam kesempatan ini menghimbau kepada seluruh kalangan untuk berperan aktif dalam kegiatan kemajuan keolahragaan nasional. Seperi jargon yang diteriakkan oleh peserta Seminar Internasional yang dipandu oleh Drs. Agus Hendra “OLAHRAGA JAYA”.

Senin, 04 Juni 2012

KOSONG


Oleh : Apri Munganti

Bukankah seorang hawa terlahir dari sang adam?
Lalu, akankah hidup meracun hati?

Bersama segores luka ini ku lukiskan
Rasa piluku melalui hariku
Betapa dusta telah merenggut kepercayaan sejati milikku,
Menikam nurani dengan tinta berisi sembilu

Penat ini tak kuasa reda dari peraduannya
Tak jua surut dari pasangnya
Waktu tak ingin berlalu tanpa nafasmu
Sejenak ku tak peduli itu
Namun pengisi jiwa ini hanyalah sang waktu

Berada di buimu memang menyenangkan, tapi memilukan
Sendiri,
Sedang kau tak peduli

Meninggalkanku dengan sisa bayangmu,
Dengan serpihan aroma tubuhmu dan sebait diksi-diksimu
Yang tetap bersahaja

Sudah, tinggallah saja diriku
Usah kau acuhkan ku
Biarkan aku dengan kekosonganmu yang tak pernah sirna
Dan abadi untuk selamanya

Cimanggung, 5 Januari 2011

BIARIN!


Oleh: Yudhistira Anm Massardi


kamu bilang hidup ini brengsek. Aku bilang biarin
kamu bilang hidup ini nggak punya arti. Aku bilang biarin
kamu bilang aku nggak punya kepribadian. Aku bilang biarin
kamu bilang aku nggak punya pengertian. Aku bilang biarin

habisnya, terus terang saia, aku nggak percaya sama kamu
Tak usah marah. Aku tahu kamu orangnya sederhana
cuman, karena kamu merasa asing saja makanya
kamu selalu bilang seperti itu
kamu bilang aku bajingan. Aku bilang biarin
kamu bilang aku perampok. Aku bilang biarin

soalnya, kalau aku nggak jadi bajingan mau jadi apa coba, lonte?
aku laki-laki. Kalau kamu nggak suka kepadaku sebab itu
aku rampok hati kamu. Tokh nggak ada yang nggak perampok di dunia
ini. lya nggak? Kalau nggak percaya tanya saja sama polisi

habisnya, kalau nggak kubilang begitu mau apa coba
bunuh diri? Itu lebih brengsek daripada membiarkan hidup ini berjalan seperti kamu sadari sekarang ini
kamu bilang itu melelahkan. Aku bilang biarin
kamu bilang itu menyakitkan

HARI INI


Oleh : Apri Munganti

waw, hari ini begitu panas, bu
hingga telur dijemur di bawah terik mentari pun dapat masak
mulanya orang-orang menanam jagung
kemudian menanam gedung (terinspirasi dari status Ariana Za, 19 Juli jam 21:40 melalui 0.facebook.com)
buahnya ranum
negeriku begitu asing
dengan mesin-mesin yang bising
kapan akan turun hujan bu?
aku tak tahan dengan kegersangan

hari ini tak ada dahan
yang ada hanya bahan
kasihan
perempatan jalan dijadikan mata pencaharian
orang tua naik pitam
mengutuk kerja keras pemerintahan

hari ini banyak tikus yang kelabakan
karena rumahnya kebanjiran
berapa hari lagi keadilan akan ditegakkan, bu?
aku sudah tak tahan dengan persaingan
persaingan dengan orang besar dan kekar
diatas belukar

hari ini sungguh berisik, bu
terlalu banyak aksi dan kreasi tak berarti
hingga tak ada yang sehati
aku tak dapat lagi mendengar nyanyian ibu pertiwi

hari ini kata ibu "bahan pokok naik"
hari ini kata ayah "BBM naik"
hari ini kata kakak "mencari uang itu pakai uang"
hari ini kata paman "orang sakit malah dilarikan"
hari ini
hari ini
hari ini
esok apa lagi?
Eddy Tansil ditemukan?
Pengeboman?
Penaikan jabatan?
atau partai dibubarkan?

Ricuh saja sekalian!

Cimanggung, 28 Juli 2011

Aku


Chairil Anwar

Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943

Rabu, 30 Mei 2012

Make One Deygorro: Perjalanan Hidup #1

Make One Deygorro: Perjalanan Hidup #1: Terlahir sebagai anak pertama pada 18 Februari 1992 di Bandung, itulah gue. Perkenalkan nama gue Deri David Joviansyah, ini adalah cerita ...

Senin, 12 Maret 2012

Penyair dan puisinya itu usai bercengkrama, lalu seketika itu kita sama terdiam. tak ada suara.
adakah kau bersama seribu cerita itu menyapaku?
bukan terlena yang ku rindukan dari pesonamu itu. Tetapi jiwa yang merindu pengharapan sebuah kegelisahan antara kau dan aku.

tak ingatkah kau ketika kita bertikai dengan seribu bahasa?
tak ingatkah kau ketika kita berdiam diri menunggu cahaya?

Beribu pula makna yang ku semaikan dalam benakmu. Mungkin telah terkubur bersama sembilu tajam di kakimu.
Tak ada lagi dering ponsel di Handphone ku sejak saat ku ucap seluruh isi nalarku. bak siang dan malam, kau dan aku tak pernah bertemu. Aku selalu tau, waktu tak pernah bisa menunggu. Meski sarang laba-laba di kamarku bertambah beribu, kau enggan berlalu.

Aku tak pernah tak menemukan kata untuk ku katakan padamu.

Untukmu yang tak pernah pergi dari ingatanku
               yang tak pernah lari dari imajinasiku
               yang tak pernah hilang dari inspirasiku

duka yang begitu dalam menyisakan luka, dari ucapanmu yang bukan untukku. Terlintas di benakku untuk mengusirmu dari hidupku. Namun sayang, aku tak pernah bisa melakukan itu. entah apa yang membuatmu nyaman berada dalam hatiku. tak pernah aku tau.

MUNGKIN KAU


Oleh : Apri Munganti

Aku mencuri sebuah kata dari sang pujangga
Lalu ku berikan padamu tanpa dusta
Dan sejak itu kau tak pernah binasa

ah... kau
Begitulah kau membuatku gila
Tanpa tatapan, tanpa senyuman

Betapa lihainya menyusup kedalam kalbu
Lalu mencuri hatiku
Berlalu.

Selasa, 27 Desember 2011

Mon Coeur

Oleh : Apri Munganti


il y a une chose qui manque avant ton départ
par ici, au mon coeur
si tu m'aimes, dis-moi!

dans le monde il y a les gens
entre les gens il y a moi
dans mon corps il y a mon coeur
dans mon coeur il y a toi

Selasa, 11 Januari 2011

Cerpen
BUAIAN TERTUNDA

Oleh : Apri Munganti

Awan itu berwarna putih, memantulkan cahaya dari sang mentari yang sinarnya merajai bumi. Awan itu berarak dari ujung cakrawala ke ujung lainnya, seputih salju, selembut kapas, elok. Seolah mengharuskan sepasang bola mata ini untuk melihatnya. Tapi tak kuasa karena sang mentari ingin sekali menghancurkan kedua mataku.

Sengatan sang raja siang itu membuat kulitku terbakar, meskipun jauhnya jutaan kilometer. Pandanganku tertuju pada seorang pemuda cilik yang sedang kesulitan membawa barang-barang yang dibeli orang di pasar. Sebenarnya aku ingin menyuruhnya pula membawa barang yang telah ku beli dari toko Pak Ajis, tapi ku rasa anak kecil itu tak akan mampu membawa barang yang berada di tanganku ini. Aku urungkan niatku untuk memanggil anak kecil itu.

Di tangan kiriku tergantung sekeresek belanjaan yang beratnya sekitar 5 kilogram, tak banyak, isinya hanya minyak goreng, wortel, kol, daging ayam dan sedikit bumbu dapur. Sedangkan tangan kananku membawa keranjang yang isinya beras dan beberapa ikat tumbuhan kangkung. Aku berjalan dengan tergesa-gesa karena jam di tangan kiriku telah menunjukkan angka pukul 10 am. Sebentar lagi Bu Mirna pulang dari TK Al-Hasan menjemput anaknya.

Di depan sebuah toko ku lihat ada beberapa tukang becak yang sedang asyik berbincang-bincang dengan tukang becak yang lainnya sambil menunggu orang yang akan menaiki becaknya, aku melambaikan tanganku kepada para tukang becak itu, tetapi tak ada satupun yang melihatku. Anak kecil yang tadi ku lihat menghampiriku, ia menawarkan diri untuk membawakan barang yang ku bawa, aku serahkan barang yang ku bawa dari tangan kiriku kepada anak kecil itu dan ia mengantarkanku menuju para tukang becak yang akan membawaku pulang.

Ia berjalan di depanku, kakinya tak beralaskan sandal, pakaiannya kumal, sepertinya sudah beberapa hari ia tak mandi. Rambutnya berwarna merah membara sebab ia selalu berada di bawah terik matahari. Aku sering melihatnya di pasar tradisional ini, pernah suatu ketika aku melihatnya tidur dengan hanya beralaskan tikar tua di depan toko Pak Ajis di malam hari, ia tak memakai selimut sehelaipun, aku ingin sekali menyelimuti tubuh mungilnya yang tak pantas menerima sapaan dari angin malam itu, tapi tak sempat.

“Au…, sakit sekali” teriakkannya memecahkan lamunanku, kaki kirinya Ia angkat ke atas layakya anak-anak yang sedang bermain sondah. Ku lihat ada tetesan darah dari jejak kakinya. Ia menghentikan langkahnya, menyimpan keresek yang dibawanya dariku di tanah dan memeriksa luka menganga di kakinya.

“kakimu berdarah, ayo ikut ke rumah majikanku, biar aku obati luka di kakimu itu” aku berjongkok di depannya yang sedang duduk di tanah.
Aku memanggil tukang becak yang jaraknya hanya beberapa meter lagi di depanku. Tukang becak itu menghampiriku dan membawa barang belanjaanku, sedangkan aku memapah anak kecil dengan luka menganga di kakinya itu.
***

Tak lebih dari 10 menit, aku dan anak kecil yang ku papah tadi telah sampai di rumah majikanku. Aku mempersilahkan anak itu masuk ke dalam rumah yang luasnya dapat menampung ratusan orang.
“siapa namamu?” tanyaku, aku tak mengetahui namanya, yang ku dengar orang-orang di pasar sering memanggilnya CIL karena perawakannya yang kecil.
“nama saya Sandi bu” jawab anak itu dengan terbata-bata. Sebuah nama yang akrab di telingaku.

“tunggu sebentar ya! Ibu ambilkan air dan obat untuk membersihkan luka di kakimu” Sandi mengangguk, aku beranjak dari tempat dudukku dan mengambil air ke dapur kemudian ku ambil kotak P3K yang berada dekat pintu dapur.
Aku kembali menuju ruang tamu dan membersihkan luka di kaki Sandi, ia bercerita tetang kehidupannya. Malang benar nasib anak itu, ia tak mempunyai keluarga, ia tinggal sebatang kara di tengah keramaian kota dan hidup dengan mengandalkan pemberian orang dari jasanya membantu mengangkat barang atau membersihkan sampah. Dulu ia sempat tinggal di sebuah panti asuhan dan sempat diadopsi oleh satu keluarga, tetapi sebenarnya bukan sebuah keluarga yang mengadopsinya, melainkan preman-preman yang mencari anak kecil untuk disuruh meminta-minta. Sandi sempat dibawa ke ibu kota, ia tak mau diperlakukan seolah pengemis, dalam hidupnya ia pantang untuk meminta-minta. Maka ia melarikan diri dari jeratan preman-preman yang mengadopsinya dan pergi menggunakan kereta api. Ia tak peduli kemana kereta api membawanya, yang ia pedulikan hanyalah kebebasan dari para preman yang mempekerjakannya sebagai seorang peminta-minta.

“panti asuhan kamu berada di daerah mana?” tanyaku penasaran, entah mengapa pertanyaan itu terlontar dari bibirku tanpa pertimbangan.
“saya tidak tahu persis panti itu berada di mana, tapi saya selalu mendengar orang-orang menyebutnya panti Malang” jawabnya. Panti Malang? Berarti letaknya di kota Malang, pikirku.
Malang adalah kota kelahiranku, aku dibesarkan oleh ibu di kota apel itu. Tak pernah terbersit dalam benakku berbincang-bincang dengan anak kecil yang kehidupannya malang seperti nama kota asalku itu.
***

Bel berbunyi, “pasti itu bu Mirna dan Rizal” taksirku.
Dan benar, saat ku bukakan pintu, yang berada dihadapanku itu adalah bu Mirna yang habis menjemput anaknya yang bernama Rizal.
Astaga, aku lupa memasak daging yang tadi ku beli di pasar, aku keasyikan mengobrol dengan Sandi. Aku ceritakan kejadian yang menimpa Sandi di pasar kepada bu Mirna. Rizal segera berlari menuju kamarnya tanpa melihat Sandi yang sedang duduk di ruang tamu. Sambil berjalan menuju kursi yang berada di ruang tamu, ku ceritakan kisah hidup sandi dan perjuangannya mencari makan. Bu Mirna merasa iba, air matanya hampir meleleh di pipinya, tapi air mata itu terbendung. Aku meminta bu Mirna untuk mengijinkan Sandi tinggal di rumah ini “biar dia tidur di kamar saya saja, bu” bujukku.
Bu Mirna mengijinkan Sandi untuk tinggal di rumahnya sementara dan ia memberikan Sandi pakaian yang tak terpakai lagi oleh Rizal yang masih layak pakai. Badan Sandi dan Rizal hampir sama besar. Tapi umurnya berbeda. Sandi berusia 8 tahun, sedangkan Rizal berusia 5 tahun.

Ku suruh Sandi untuk mandi dan mengganti pakaiannya, ia menolak. Kemudian aku jelaskan kepadanya bahwa bu Mirna mengizinkannya tinggal di rumah ini. Sandi menurut dan mengucapkan terimakasih berulang kali kepada bu Mirna dan aku.
Rizal keluar dari kamarnya.
“bi, kakak yang tadi siapa namanya” Tanya Rizal.
“oh, itu namanya kak Sandi, kak Sandi akan jadi teman Rizal nanti” jawabku.
Ku lihat Sandi telah selesai membersihkan badannya, Rizal menghampiri Sandi dan mengajaknya bermain bola di taman depan rumah.

Sore hari aku menyiram tanaman yang berada di pekarangan rumah bu Mirna, sebuah kegiatan yang sering ku lakukan setiap hari. Mentari sebentar lagi kembali ke peraduannya dan berbagi cahayanya ke belahan dunia yang lain. Sandi dan Rizal berlari-lari kecil di pekarangan rumah dan mengganggu aktivitasku, mereka berlari mengelilingiku –tak lama. Kemudian mereka berlalu menuju rumah.
***

Malam hari ku lihat cahaya bulan pucat, tak seperti malam kemarin. Dari kamarku aku dapat melihat bulan secara langsung malalui jendela. Aku teringat akan pacar lamaku –Haris. Dulu aku sempat mengandung anak darinya dan tanpa ikatan pernikahan, hubungan kami tak direstui oleh kedua orang tuaku. Ibuku menyuruh untuk menggugurkan kandunganku, tapi aku tak mau. Hingga pada akhirnya aku tak pernah keluar rumah sampai bayi yang ada dalam perutku lahir, sedangkan Haris tak ada kabar lagi setelah ayahku mencacimakinya. Aku melahirkan anakku di rumahku sendiri, anakku berjenis kelamin perempuan. Setelah aku melahirkan, ibu tak mau melihat anakku bahkan meliriknya pun enggan.
Ibu memaksaku untuk menitipkan anakku ke panti asuhan, aku tak mau. Ibu mengancam jika aku tak menuruti keinginan ibu, aku tak akan diakui sebagai anaknya. Itu adalah pilihan terberat dalam hidupku. Maka dengan berat hati aku memberikan anak yang berada di pangkuanku kepada ibu. Beberapa bulan setelah kelahiran yang dirahasiakan itu aku pergi dari rumah. Bukan karena kabur, melainkan untuk mencari kerja. Itu juga atas kemauan ibuku, selain itu agar para tetangga tak curiga. Aku mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu di Bogor, dimana tempat aku tinggal saat ini.
“okho…okho” sandi terbatuk. Aku tersadar dari lamunanku. Aku beranjak dari tempat dudukku dan mengambil selimut, kemudian ku selimuti tubuh mungil Sandi yang terlihat kedinginan.

Saat tanganku sampai pada dada Sandi, ku lihat sebuah kalung menggantung di lehernya. Kalung itu terbuat dari perak, liontinnya berbentuk hati dengan huruf R dan H di tengahnya. Sepertinya aku pernah melihat kalung itu. Aku menyentuh kalung itu dan ku balikkan liontinnya. Tertera dua nama, Rahma dan Haris –itu adalah namaku dan nama pacarku. Aku tersentak kaget, dulu kalung itu ku kenakan di leher anakku, tapi bagaimana mungkin kalung itu berada di leher Sandi? Sangat mustahil, Sandi adalah seorang laki-laki sedangkan anakku adalah seorang perempuan.
Ku lihat jam di dinding kamarku menunjukkan angka 12. Sebelumnya tak pernah aku tidur selarut ini. Aku akan tanyakan kepada Sandi soal kalung itu besok. Aku merebahkan badanku di sebelah Sandi dan tak berapa lama kamudian aku terlelap.
***

Pukul 4.30 aku terbangun dari tidurku yang ku lalui tanpa mimpi. Aku bergegas menuju kamar mandi untuk mandi dan mengambil air wudhu kemudian bersembahyang. Usai sembahyang ku lihat wajah belia Sandi, hatiku miris melihatnya anak seusianya seharusnya tak mengadu nasib untuk bertahan hidup sendiri. Seharusnya ia bersekolah layaknya anak-anak yang lain.
Aku membereskan kamarku dan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi, saat aku sedang memasak rupanya Sandi sudah terbangun. Aku teringat akan kalung yang menggantung di lehernya.
“San, boleh ibu bertanya sesuatu?” ku buka pembicaraan itu dengan satu pertanyaan.
Sandi menganggukkan kepalanya.
“dari mana kamu mendapatkan kalung itu?” tanyaku penasaran.
“oh ini bu?” ia memegang kalung yang menggantung di lehernya.
“ini adalah kalung yang diberikan adik saya sewaktu di panti asuhan dulu” Sandi menjelaskan.

Aku tersentak kaget, bibirku bergerak menceritakan asal usul kalung itu, Sandi mendengarkan dengan seksama, hatiku seolah mendapat pencerahan dari jawaban yang dilontarkan Sandi. Pikiranku melayang entah kemana, aku memasak dengan hati pilu, gembira, sesak oleh kerinduan, cemas, harapan. Semuanya berkumpul di satu titik, di hati.
Saat sarapan pagi aku menceritakan semua kejadian yang aku alami pada bu Mirna, termasuk aku yang pernah mempunyai anak dan kejadian tadi malam yang membuat asaku meninggi luar biasa untuk menemui anakku. Aku meminta ijin untuk pergi selama seminggu mencari anakku ke panti Malang itu. Bu Mirna mengijinkan, tetapi aku harus kembali ke rumah ini lagi.
Siang hari aku menuju stasiun kereta api untuk pergi ke panti Malang bersama Sandi. Aku berangkat dengan tergesa-gesa, membayangkan pertemuanku dengan anak yang hanya sekali ku gendong itu, dengan anak yang tak pernah ku beri ASI, dengan anak yang selalu ku impikan untuk bertemu dengannya.
***

Sampai di depan panti Malang Sandi berlari menuju pintu.
“Ibu, ibu, bu asih” ia menggedor-gedor pintu sambil menyebut nama seseorang. Mungkin orang yang dipanggilnya adalah pemilik panti itu.
Pintu terbuka, seorang anak kecil yang tubuhnya tak lebih tinggi dari Sandi berdiri di depannya, matanya berbinar, mata itu berwarna coklat, seperti mata Haris. Rambutnya hitam legam dengan panjang sepunggung.

“kak Sandi” gadis cilik itu memanggil nama Sandi kemudian memeluknya.
“kak, siapa ibu itu? Ibu kakak?” tanyanya heran.
Sandi memegang kalung yang tergantung di lehernya kamudian ia membalikkan liontinnya.
“sekarang dek Fifi sudah bisa membaca kan?” Tanya Sandi. Gadis cilik yang bernama Fitri itu mengangguk.
“coba baca!” Sandi menyuruh gadis itu membaca tulisan yang berada di liontin yang ia pakai.

“Rahma dan haris” ucap gadis itu. Air mataku meleleh, aku tau bahwa gadis kecil itu adalah anakku.
“nah ibu yang bersama kakak ini adalah bu Rahma, pemilik kalung ini, dia adalah ibu adek” Sandi menjelaskan.
Fitri memandang wajahku, aku berjongkok untuk memeluknya. Fitri meraih tanganku, aku lekatkan tubuhku pada tubuh mungilnya. Ini adalah kedua kalinya aku memeluk anakku tercinta.

“Ibu, fifi kangen” racaunya, bibirku tak bisa mengeluarkan kata-kata, hatiku sungguh senang tak terkira, rindu yang selama ini membelanggu kakiku telah terlepas, terlepas oleh satu pertemuan dengan pemuda cilik yang kemudian mengantarkanku kepada orang yang paling ku tunggu. Anakku.